Selasa, 05 Februari 2013

Manglayang Surga Duri

“Akhirnya… naik gunung juga,” seloroh Rezza terkekeh. 
Aku langsung membalasnya dengan senyuman lebar. Tak terasa bus Primajasa klas ekonomi AC jurusan Garut-Lebak Bulus yang kami tumpangi dari pintu tol Cileunyi sudah memasuki Jakarta. Setelah menurunkan sebagian besar muatannya di perempatan Pasar Rebo, akhirnya kami mendapatkan tempat duduk. Lebih dari tiga jam kami berdiri. Memang, tiap akhir pekan, trayek dari Pasundan (Garut, Tasik, Ciamis) ke Jakarta selalu ramai penumpang.
Bangun tidur, narsis dulu
Ki Bagus memilih duduk di bangku paling belakang. Sambil menjaga tas carrier kami, dia bisa leluasa merokok di ruangan khusus itu. Sementara itu, aku dan Rezza memilih bangku double urutan ketiga dari belakang. Di sebelah kanan kami, ada seorang pemudi yang dalam fikiranku mungkin dapat diajak kenalan. Tapi, tak jadi. Aku lebih memilih ngobrol soal pendakian yang baru saja kami lakukan. Mendaki Manglayang.

Jumat, 25 Januari 2013

Majapahit si "Ular Besi"

Suasana Stasiun Kereta Api Pasar Senen siang itu (Selasa, 25/12/12) terlihat sibuk. Deretan panjang calon penumpang yang telah bertiket mengular hingga keluar peron. Semuanya berdesakan, berebut masuk, khawatir tertinggal kereta. Empat penjaga peron ditemani dua petugas keamanan sampai kualahan memeriksa karcis. Mereka memastikan agar pengantar tidak menyelinap masuk ke peron.
Menurut peraturan terbaru PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) persero, dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap penumpang, stasiun harus tertib dan seteril. Pengantar cukup sampai di depan peron saja, tidak boleh masuk ke dalam kereta.
Di sudut lain, kuli-kuli angkut berseragam kuning asik merayu calon penumpang agar bersedia menggunakan jasa ototnya. Mereka ikut kecipratan rizki dari penumpang kereta api yang tak sanggup membawa barangnya sendiri. Duapuluh ribu rupiah, tip untuk sekali angkut dari peron hingga tempat duduk penumpang sesuai dengan karcis. Kalo barang yang diangkut terlalu banyak, si kuli akan minta tip tambahan, menjadi tigapuluh ribu rupiah.

Rabu, 12 Desember 2012

Hidup di Tengah Ancaman


Kawan, apakah kamu pernah merasa jiwamu dalam kondisi terancam? Dalam menjalani hidup di tengah belantara dunia ini, wajar rasanya seorang manusia menerima suatu ancaman dari orang lain. Kalo anak rantau, biasanya sih sering diancam ibu yang punya kosan karena telat bayar uang sewa kamar kos plus listrik yang harus disetor rutin tiap awal bulan. Atau, para mahasiswa yang merasa terancam karena diultimatum rektor akan di DO gara-gara rajin bolos kuliah dan milih berunjukrasa di jalan menolak komersialisasi pendidikan.
Kurasa, masih banyak lagi peristiwa lain, yang secara tak langsung dapat berpotensi mengancam diri kita. Sederhananya, dua hal di atas adalah salah satu bentuk ancaman terkecil yang akrab dan dekat dengan anak-anak muda perantau. Mungkin salah satu dari kalian pernah mengalaminya. Tentu, ancaman itu tak begitu membahayakan kehidupan seseorang bukan. Atau sampai merampas hak-hak seorang manusia di negeri Merdeka ini.
Tapi, apakah kamu yang sedang baca catatan ini, pernah bertanya-tanya, gimana jadinya jika suatu ancaman itu datang dalam bentuk yang terstruktur, kemudian legal menurut hukum, dan dilakukan oleh Negara terhadap warga negaranya?
Penasaran? Atau, malah bingung? Lanjutin aja bacanya.

Selasa, 27 November 2012

Menjadi Mahasiswa 100%

        Ketika masa Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (dulu disebut OSPEK/PROPESA, kini OPAK) sedang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sederet panitia yang sedang ngaso di taman, saya tanyai tentang pengertian mahasiswa malah bingung sambil menjawab ragu, “mahasiswa itu ya seperti kita ini bang, datang ke kampus terus belajar sama dosen”. Pemudi yang saya tanyai ini memilih bidang studi komunikasi jurusan jurnalistik semester III dan tak merasa perlu berburu pemahaman makna mahasiswa. Mereka tak pernah ikut diskusi politik dan enggan baca buku Sarwono, Soekarno atau diktat Undang-Undang Dasar tentang konsep dan tugas mahasiswa yang disampaikan tokoh-tokoh di atas. Salah satu teman di sampingnya malah ikutan nyeletuk, mengklarifikasi, “emang situ bukan mahasiswa, ko masih nanya juga?”.
 Memang, makna kata mahasiswa sering membuat kita bingung. Pasalnya, semakin hari, kata mahasiswa direduksi sebatas makna lahiriyah (yang tampak) saja—“orang yang datang ke kampus dan belajar dengan dosen”, misalnya. Sementara tugas dan fungsi mahasiswa, malah dilupakan. Padahal rentang sejarah merekam, bahwa mahasiswa selalu berada pada posisi vital saat terjadi peristiwa-peristiwa besar di negeri ini. Meski berangkat dari hasil diskusi dengan beberapa teman, paparan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan wacana pribadi dan bagi siapa saja yang berkenan membaca.

Selasa, 02 Oktober 2012

"Ngobrol"


Bumi kita tak lagi bulat!

Kalimat itulah yang tiba-tiba terlintas di otakku pada suatu pagi di Blitar, pertengahan September lalu. Memang, teknologi komunikasi telah mengubah bumi kita menjadi datar dan tanpa sekat. Persoalan jarak, ruang, dan waktu kini tak lagi dianggap sebagai masalah yang menghambat dalam kegiatan komunikasi antara manusia satu dengan lainnya. Dulu, siapa yang dapat meramalkan Perang Dunia I, II, dan Perang Dingin akan berakhir tanpa hasil, kecuali kematian dan kehancuran? Justru dari perang-perang terdahsyat yang pernah menjadi sejarah paling kelam dalam peradaban manusia itu, lahir teknologi komunikasi yang semakin hari tambah canggih.

Di abad 21 ini, siapa tak kenal komputer, HP, atau internet? Peralatan-peralatan tersebut, dulunya pertamakali dikembangkan oleh anggota militer di negara-negara Eropa dan Amerika untuk kepentingan imperialisme. Atau, siapa yang sampai hari ini belum menggunakan BB, tablet android, atau gadget lain yang didalamnya dilengkapi dengan akses langsung ke Facebook, Twitter, dan lainnya. Maka hai-hati, sampean akan dengan mudah dicap sebagai orang yang ‘ketinggalan zaman’.